Kamis, 26 September 2013

Usaha Ritel Cara Cepat Dapat Untung


Usaha penjualan ritel atau usaha eceran, boleh jadi salah satu cara instan mendapat untung. Pasalnya, setiap artikel yang dijual, merupakan kebutuhan semua masyarakat mulai anak-anak hingga orang tua. Kebutuhan juga digunakan setiap saat, mulai bangun pagi hingga tidur lagi.

Maka boleh dikatakan, bisnis ritel merupakan bisnis yang paling moncer sepanjang masa. Karena yang melayani semua orang, semua strata sosial juga semua tingkatan ekonomi.  

Salah satu contoh usaha ritel, mini market, warung serba ada hingga jongko di pinggir jalan. Kelebihan usaha ritel, perputaran uang sangat cepat, sehingga lebih cepat pula mendatangkan untung.

Meski demikian, dari sisi keuntungan relative tidak besar, sehingga untuk mendatangkan keuntungan lebih besar, perputaran uang harus dibuat lebih cepat juga barang yang dijual  harus komplit.

Seorang kawan yang sudah cukup senior dari saya berkisah. Ia memiliki waralaba minimarket. Dengan modal Rp300 juta, dalam setiap bulan ia mendapat keuntungan bersih sekitar Rp6 juta. Ia  sendiri tidak disibukkan dengan pengelolaan stok barang, belanja juga gaji karyawan. Sistem pengelolaan minimarketnya sudah diatur oleh induk waralaba sehingga tidak direpotkan dengn urusan tektek-bengek usaha.

Meski demikian ia juga tetap menyimpan orang kepercayaan seorang manager, sehingga tidak sama sekali tidak loss control terhadap keberlangsungan usahanya.

Hal yang sama untuk usaha mikro seperti jongko di pinggir jalan. Sebuah warung kopi tempat saya nongkrong dan kawan-kawan, mendapat keuntunagn cukup besar dari warungnya yang hanya ukuran 3X1 meter. Sehari-hari ia menjual kopi panas, gorengan juga makanan ringan kerupuk, minuman segar juga jajan anak-anak.

Saya yakin dengan jongkonya saja jika diuangkan tidak akan mencapai Rp10 juta. Namun tingkat kesejahteraan pemilik warung tersebut cukup bagus padahal dia tidak punya usaha lain.
Rumah di kampungnya cukup kokoh, anak isterinya dihiasai dengan perhiasan emas. Dan  dia juga tidak memiliki utang keapda bank, layaknya perusahaan besar yang adakalanya utang lebih besar ketimbang asset usahanya.

Yang paling banyak mendatangkan untung menurut pemilik jongko itu, justeru dari penjualan kopi panas. Dari grosir harga satu bungkus kopi paling mahal Rp500 bahkan Rp450 dan dijual berupa kopi seduh Rp1500-Rp2000.  Misalnya dia mendapat keuntungan Rp1000 dari setiap gelas kopi, jika sehari mengeluarkan 100 gelas kopi, berarti ia sudah mendapat keuntungan  Rp100.000/hari atau Rp3 juta per bulan. Sebuah keuntungan yang tidak sedikit untuk ukuran warung yang cukup kecil.

Menurut para pengusaha retail, salah satu trik penjualan retail, barang harus lengkap. Semua yang ditanyakan pembeli harus tersedia, jangan sampai stok barang kosong. Stok juga cukup satu atau dua unit tetapi begitu terjual harus kembali dibelanjakan untuk mengganti barang yang terjual.

Dari contoh kecil di atas saja, bagaimanapun bisnis ritel sangat menggiurkan. Maka tak heran jika perusahaan raksasa berlomba-lomba membuat supermarket atau mall dan yang dijual di dalamnya cuma kebutuhan sehari-hari yang harganya murah meriah. (*)