Usaha penjualan ritel atau usaha eceran, boleh jadi salah
satu cara instan mendapat untung. Pasalnya, setiap artikel yang dijual,
merupakan kebutuhan semua masyarakat mulai anak-anak hingga orang tua. Kebutuhan
juga digunakan setiap saat, mulai bangun
pagi hingga tidur lagi.
Maka boleh dikatakan, bisnis ritel merupakan bisnis yang paling
moncer sepanjang masa. Karena yang melayani semua orang, semua strata sosial
juga semua tingkatan ekonomi.
Salah satu contoh usaha ritel, mini market, warung serba ada
hingga jongko di pinggir jalan. Kelebihan usaha ritel, perputaran uang sangat
cepat, sehingga lebih cepat pula mendatangkan untung.
Meski demikian, dari sisi keuntungan relative tidak besar,
sehingga untuk mendatangkan keuntungan lebih besar, perputaran uang harus dibuat
lebih cepat juga barang yang dijual harus
komplit.
Seorang kawan yang sudah cukup senior dari saya berkisah. Ia
memiliki waralaba minimarket. Dengan modal Rp300 juta, dalam setiap bulan ia
mendapat keuntungan bersih sekitar Rp6 juta. Ia sendiri tidak disibukkan dengan pengelolaan
stok barang, belanja juga gaji karyawan. Sistem pengelolaan minimarketnya sudah
diatur oleh induk waralaba sehingga tidak direpotkan dengn urusan tektek-bengek
usaha.
Meski demikian ia juga tetap menyimpan orang kepercayaan
seorang manager, sehingga tidak sama sekali tidak loss control terhadap
keberlangsungan usahanya.
Hal yang sama untuk usaha mikro seperti jongko di pinggir
jalan. Sebuah warung kopi tempat saya nongkrong dan kawan-kawan, mendapat
keuntunagn cukup besar dari warungnya yang hanya ukuran 3X1 meter. Sehari-hari
ia menjual kopi panas, gorengan juga makanan ringan kerupuk, minuman segar juga
jajan anak-anak.
Saya yakin dengan jongkonya saja jika diuangkan tidak akan mencapai
Rp10 juta. Namun tingkat kesejahteraan pemilik warung tersebut cukup bagus
padahal dia tidak punya usaha lain.
Rumah di kampungnya cukup kokoh, anak isterinya dihiasai
dengan perhiasan emas. Dan dia juga tidak
memiliki utang keapda bank, layaknya perusahaan besar yang adakalanya utang lebih
besar ketimbang asset usahanya.
Yang paling banyak mendatangkan untung menurut pemilik jongko
itu, justeru dari penjualan kopi panas. Dari grosir harga satu bungkus kopi
paling mahal Rp500 bahkan Rp450 dan dijual berupa kopi seduh Rp1500-Rp2000. Misalnya dia mendapat keuntungan Rp1000 dari setiap
gelas kopi, jika sehari mengeluarkan 100 gelas kopi, berarti ia sudah mendapat
keuntungan Rp100.000/hari atau Rp3 juta
per bulan. Sebuah keuntungan yang tidak sedikit untuk ukuran warung yang cukup
kecil.
Menurut para pengusaha retail, salah satu trik penjualan
retail, barang harus lengkap. Semua yang ditanyakan pembeli harus tersedia,
jangan sampai stok barang kosong. Stok juga cukup satu atau dua unit tetapi
begitu terjual harus kembali dibelanjakan untuk mengganti barang yang terjual.
Dari contoh kecil di atas saja, bagaimanapun bisnis ritel
sangat menggiurkan. Maka tak heran jika perusahaan raksasa berlomba-lomba membuat
supermarket atau mall dan yang dijual di dalamnya cuma kebutuhan sehari-hari
yang harganya murah meriah. (*)
nice mas...
BalasHapusjgn lupa berkunjung yah
http://harafimulki.blogspot.com/2014/02/cara-memasang-widget-social-media.html